Minggu, 17 April 2022

Dawai Gawai

 Dawai Gawai

By Juharoh Juha









Terburai derai 

Ramai 

Damai

Permai

Oleh hiruk pikuk dawai gawai

Hingga,

Dalam mimpi sayup sayup kudengar

Irama nada gembira

Berganti suara harpa

Menyepi rasa.

Katanya,

Dawai asmara mengusik jiwa

Yang tak lagi merdeka

Lalu,

Dengan apa kutanya

Dengan apa ku kata

Dengan apa ku nyata

Tak lagi dengar dua telinga

Tak lagi menyapa hati membuta


Dengar!

Dengarkan!

Suara hati ini berteriak lantang sekali

Tak lagi bisa kembali

Pada kisah semula jadi

Tak dapat lagi terbagi

Sebongkah hati ini

Ianya, terlalu suci 

Untuk dicampakkan 

Untuk dihempaskan

Pada kisah silam

Di ujung malam


Meski bayang datang

Tak mungkin kenang kuulang

Tak mungkin rasa kupaksa jua

Datang dalam masa

Yang tak lagi semestinya


Untuk yang tak terlupakan

Kudoakan

Kau dapat berteman 

Dengan bunga indah ditaman impian


Dan pintaku lagi,

Jangan rusak layar hati

Nan suci,




Benci Termahal

 



          By Juharoh Juha



Sesederhana itukah bahagia?

Tanpa balutan permata

Tanpa kilau harta

Susah senang bersama 

Sepedih itukah luka?

Semahal itukah benci durja?

Hingga,

Tergadai harga diri mulia

Tenggelam marwah manusia

Kemana perginya

              Senyum sapa 

                         Tanya 

                                 Tawa ceria

Mengapa semua

Berganti benci merenggut bahagia

Adakah khianat jadi warna?

Ataukah salah dalam prasangka?

Apa mungkin tersilaf kata?

                        Pudar rasa

                               Hilang saudara

Kemana perginya sang maaf yang bertakhta?

Kemana jiwa - jiwa syuhada

Yang berjuang tanpa senjata

Dimana letak singgasana cinta?

Yang ada hanya neraka

Dalam balut surga dunia

Apakah ini pertanda

Terompet sangkakala kan datang jua?

Akankah?


Rabu, 13 April 2022

HARUS PULANG

 Harus Pulang

Juharoh Juha 


Aku pernah disini

Di taman ini


Indah memang

Banyak bunga berkembang

Kupu dan kumbang

Menari senang

Bernyanyi riang

Bunga bergoyang

Tertiup bayu yang datang


Aroma bunga wangi menebar

Kumbang datang menghisap nektar

Sebentar

Lalu pergi terbang 

Melayang

Mencari arah pulang 


Indah memang

Taman di Kota Kembang


Kulihat daun daun  yang hijau segar

Menetes embun  dari pucuknya

Sisa hujan semalam

Masih melekat erat

Pada pucuk daun yang mulai layu

Terkena terik tanpa tiup bayu


Dendang suara lagu merdu

Terdengar syahdu menghibur kalbu

Musiknya yang indah

Membuat jiwaku kembali tergugah


Indah memang indah

Hingga aku teringat Allah

Tuhan pencipta jagat raya



Apalah artinya Taman Asia Afrika

Dibanding Firdaus milik - Nya


Indah memang,

Tapi aku harus pulang

Ada yang menantiku datang

Dengan hati lapang

Tanpa teringat kenang

Indahnya taman dikota kembang



Yang Silam

kepadamu

duhai angin lalu

dengan apa

harus ku halau

hadirmu

yang membuat risau

haruskah ku berlari, pergi

tuk menutup lembar ini

karena  hadirmu,

di musim ini

RINDU SEJATI

 Jangan tanya lagi padaku

Apa hakekat merindumu

Karena kau tlah tahu itu

Itu hanya sebuah harap bermuara temu

Yang semu

Pada siapa ia menyapa?

Dan siapa pemiliknya?

Bebas kau teruntukkan pada siapa.


Tuhan  pemilik semesta?


                Yang baqa

                     Pemurah

                           Pemilik segala


Atau makhluk-Nya ?


                  Yang fana

                      Lemah

                            Tiada daya


Asalkan,

Jangan sampai salah kau artikan

Karena harapan perjumpaan

Pada selain Tuhan

Adalah sebuah keniscayaan.

Yang meragukan.



Senin, 03 Januari 2022

Rindu Dalam Diam

Ada yang rindu diam-diam

Ada yang diam - diam rindu

Ada yang rindu tapi diam

Ada yang diam tapi rindu

Ada yang rindu dalam-dalam

Ada yang dalam-dalam rindu

Ada yang dalam diam rindu

Ada yang rindu dalam diam

Ada yang lagi rindu

Ada yang lagi diam

Rindu lagi rindu lagi

Tapi,

Diam lagi diam lagi

Kau bohongi hati

Kau sembunyikan bukti

Hingga akhirnya kau bingung sendiri

Berhenti atau terus berlari

Mengejar rindu yang tersimpan rapi

Dalam kotak - kotak rindu yang berwarna- warni



Minggu, 02 Januari 2022

MENGEMAS KISAH

Kemarin, ada banyak kisahku yang

berserakan.

Berhamburan  tak keruan.

Tertiup angin kesombongan,ataukah keputus asaan.

Di halaman,di jalanan, bahkan di ujung kerinduan,

Yang nyata  dari ketidakmungkinan.

Di semua tempat tlah menorehkan kisah

Dan menulisskan banyak  sejarah

Tentang jejak langkah

Yang ku tau, tanpa kusadari.

Diantara coretan kisah dan langkah

Ada tulisan beraneka warna tinta. Entah warna emas, biru ataupun hitam.

Bahkan  tak luput dari coretan  tinta berwarna merah.

Yang tak terlihat indah.

Yang mewarnai dan menodai  kertas putih kehidupan

Mungkin dalam coretanku ada yang secara tak sadar

Menyentuh ruang ruang pribadi seseorang

Atau terlalu tebal membekas  sehingga sulit terhapuskan.

Ku teringat kata kata dewa rindu di dunia sana.

Gunakan kebaikan yang tak seberapa.

Sebagai senjata.

Untuk berdoa.

Dan hari ini hari ketiga dibulan januari

Akupun berdoa,

Ya Allah yang Maha Pemberi segala.

Segalanya adalah kepunyaanMu.

Jangankan hamba -Mu  yang hina dina ini.

Seutas tali urat di leherkupun bukan punyaku.

Maka, kuserahkan padaMu akan sekelumit kebaikanku.

Jadikanlah ia, wasilah untuk terkabulnya segala doa dan pinta.

Permudahkan segala urusanku hari ini esok dan lusa

Dan ternyata, Allah beri kebaikan yang berlipat dari sekelumit kebaikanku.

Di kirimkan doa dari langit.

Lewat angin yang berhembus lembut dan dingin.

Menyejukkan siang yang gersang.

Mengumpulkan semangat yang hilang.

Bersama doa dan pinta yang kulangitkan.

Ku bangit dan ku raih lembar lembar kisah  yang tlah kubuang.

Ku kumpulkan dan kubedakan, agar yang putih tetaplah putih dan yang  hitam biarlah memudar.

Hingga akhirnya,ku dapat mengemas kisahku yang berserakan

Dalam bingkisan indah, bernama kebaikan.

Aamiin.

gelap bukan berarti tak ada cahaya.



  Menjaga Tri TA Juharoh Juha *************** Menjaga sesuatu  lebih susah dari pada mendapatkanya. Benarkah? Pertanyaan diatas tidak ...