Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Juni 2022

Basmallah

 

Basmallah
By Juharoh Juha 

Bismillahirrahmanirrahim.
Tiada kalimat yang paling indah. Melainkan kata yang dimulai dengan basmallah.
Kata yang mengurai makna Maha kasih dan maha pemurah. Maha penyayang yang semuanya disayang tak pilih belah.
Sungguh suatu anugerah. Jika setiap kalimat kita dapat mengawalinya dengan basmallah.

Namun terkadang kita tersilaf dan terlupa. Karena alpa atau mungkin sedang tergesa . Kalimat basmallah tak jadi pemula. Terus saja berucap ribuan kat hingga selesai berbicara.

Sebenarnya apa hikmah dari membaca basmallah?
Kalimat yang berkafazd  bismillahirrohmaanirrohiim.
Yang mempunyai arti
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Apa ia hanya pemanis kata belaka?
Atau hanya pemula kata tak bermakna?
Sepertinya bismillah mempunyai makna yang begitu besarnya.

Selain pembuka kata dan pemula acara. Bismillah memiliki ragam faedah dan guna. Salah satunya yaitu menuntun kita masuk surga.

Dari Atha’ bin Jabir bin Abdullah berkata:

“Ketika Bismillaahir rahmaanir rahiim diturunkan, maka larilah awan ke arah Barat tenanglah angin, kocaklah lautan, jatuhlah binatang-binatang karena sakitnya, setan-setan dilempari dari langit, dan Allah ‘Azza wa jalla bersumpah dengan kemuliaan-Nya, nama-Nya tidak disebut dalam bibir yang berpenyakit, dan nama-Nya tidak disebut pada sesuatu melainkan Allah memberkatinya, siapa membaca “Bismillaahir rahmaanir rahiim”, maka ia masuk surga.”

Dari satu saja keutamaan membaca kalimat basmallah. Kita sudah memperoleh manfaat atau faedah. Yang sangat besar dan tak kita sangka. Tak sekecil dan sependek bacaannya.
Terlihat gampang kedengarannya. Namun kita sering melupakannya. Padahal dengan satu kalimat saja, kita bisa dituntun masuk kedalam Jannah -Nya.

Marilah kita semua. Untuk mulai mengajak lidah kita terbiasa. Mengucapkan Basmallah sang pemula kata.
Selain agar terkabul segala hajat dan rencana. Kita juga dapat balasan surga.

Ternyata jalan kesurga murah ya, harganya?
Tapi anehnya banyak yang lupa.



Jumat, 03 Juni 2022

Rizkimu


Rizki

Juharoh Juha

**************

Rezekimu berapa?
Rezekimu dimana?
Allahlah  penentunya.

Yang namanya rezeki itu tidak  bisa di tebak. Ibarat orang belajar nembak. Kadang tepat sasaran kadang meleset.

Tapi, walau begitu peluru peluru usaha harus digencarkan. Granat granat ikhtiar harus di kencangkan. Bombardir  doa pun harus lebih dikuatkan.
Agar dentumannya menembus sampai kelangit teratas. Dan menembus batas  taqdir yang telah tersurat oleh sang pemilik singgasana Arasy.
Dan gempitanya sampai ke semesta raya.
Berbuahlah segala ikhtiar dan rengek pinta.

Terkadang, rezeki datang tanpa di sangka - sangka.
Kadang juga yang dinanti tanpa kabar berita.
Namun yakinlah disetiap doa yang kau pinta. Disetiap jemari yang kau tengadah . Setiap derap kaki teriring  langkah.
Mencari maisyah dengan menggapai ridho Allah

Namun kau harus sabar dan ikhlas
Kan ada doa  yang belum terbalas. Namun     kekayaan Allah yang maha luas. Tak terbatas. Akan menghampirimu hingga kau merasa puas.

Tapi, ada saatnya manusia tak sabar. Menunggu penantian yang penuh debar. Dengan prilaku gusar. Hingga berkata kasar. Protes dan demo kepada Tuhan yang Maha Besar.Seperti mahasiswa minta turunkan harga pasar.

Kemana rezekiku?
Rezeki tak kemana mana. Ia sudah ada pada singgasananya. Hanya kita mungkin yang salah senjata. Dalam menembaknya . Atau salah  pakai petunjuk arahnya. Hingga kita belum sampai ke tempat dimana rezeki sudah diatur oleh -Nya.
Tentang kadar atau jumlahnya. Segitulah rezeki kita. Dan jangan takut rezeki tertukar. Percayalah pada qoda dan qodar.

Tapi jangan pula malas. Mengemis pinta yang belum berbalas. Mengais Rizki Allah di Rahmatnya yang Maha luas.




Jumat, 29 April 2022

Sang Peri yang Mencari

 Sang Peri yang Mencari

Juharoh Juha 

**************


Ketika sembunyi tak lagi sunyi. Keluarlah  dari persembunyian. Agar kesunyian tak melambangkan kehilangan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Suatu malam,  dipenghujung ramadhan. Ada peri cantik. Yang sedang beri'tikaf di cangkangnya yang unik.Didalam  cangkang  ajaib itu ia merasa terusik. Ia mendengar suara bisik - bisik yang berisik.  

Kata mereka, ternyata di negeri entah berantah ada sebuah kisah. Tentang kehilangan jamaah  kekasih Allah.


Tiba - tiba timbul jiwa jurnalistiknya. Ingin mencari informasi tentang fenomena dipenghujung ramadhan ini.

Otaknya menelisik tanya. Apa penyebabnya. Kemana hilangnya para kekasih Allah ? Semoga mereka baik - baik saja. Doanya dalam hati.


Sang peri cantikpun menyesal, kenapa ia tak keluar sedari kemarin. Padahal kabar tentang fenomena yang terjadi di desa Rempug Rukun sudah sangat santer terdengar .


Diam - diam ia keluar dari persembunyiannya. Mulanya ia bersembunyi agar mencari tempat sunyi. Untuk lebih mendekatkan kepada sang pencipta alam raya ini. Namun ia merasa terganggu dengan kabar berita. Tentang jamaah yang hilang lagi. 


Ia keluar dari tempatnya bersembunyi. 

Yaitu cangkang ajaib.

Diam - diam ia berjalan ke arah masjid. Dilihatnya sekeliling ruang masjid. 

"Hmmm...."ia bergumam.

"Sepertinya  memang masjid tampak bertambah luas. Sehingga banyak ruang kosong tersisa.  Ataukah memang benar kabar yang tersiar. Tentang jamaah yang hilang." Pikirnya.


Sambil berfikir keras iapun berniat kembali untuk menyendiri lagi. Di perjalanan pulang ia melewati sebuah tempat. Dimana banyak orang berbondong - bondong  menjual dan membeli barang. Ada baju, celana, kue dan juga barang lainnya. Oh ..ternyata mereka disini. Pantas saja, dimasjid sepi.

Gumam sang peri.


Setelah pencatian informasi dirasa cukup. Ia ingin segera pulang.

Namun ditengah perjalanan, hidung peri yang mungil dan minimalis mencium aroma wangi. 

"Hmmmmm....lezatnya. Aroma apa ini?"

 Lewat dua mata sipitnya iapun mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


 Ternyata ada beberapa ibu - ibu Sholehah yang sedang lembur didapur. Mempersiapkan jamuan kue untuk para tamu dihari raya.

Ada bermacam kue yang cantik rupa dan bentuknya.Dan insya Allah pasti lezat rasanya. 


Karena rasa penasaran yang  begitu kuat, iapun masuk ke rumah para penduduk. Dari hasil  investigasinya ia menjumpai berbagai alasan. Mengapa ruang masjid tampak lebih luas dibanding minggu pertama awal Ramadhan.


Dilihatnya ada beberapa ibu yang mempunyai anak kecil. Para ibu itu sholat tarawih di rumah sambil mengasuh si buah hati.

Sementara sang bapak bergantian mengasuhnya.

Ada pula diantara mereka yang sedang sakit. Dan beberapa ibu yang sedang haid.


Sang peri cantik masih penasaran, kemana lagi,  menghilangnya para jamaah kekasih Allah.


Sang peri melihat segerombolan anak muda, naik motor kebut kebutan. Hingga sang peri sangat kaget dibuatnya 

Nggeeeng ..ngennggg....

Bremm bremmmm...breenm.

Sang peri cantik  mengikuti mereka dari belakang. Sambil naik di cangkang ajaibnya. 


Ternyata anak muda tersebut singgah disebuah cafe. Dan sekedar numpang wifian untuk bermain game sambil menyeruput  copi capucino yang nikmat.


Sang peripun bergegas pulang. Dan rasa penasarannya sudah hilang. 

Ia hanya berdoa, semoga para manusia yang dilihatnya. Apapun yang mereka lakukan mendapat keberkahan dibulan ramadhan. 


Sang peri kembali masuk dalam cangkang ajaib. Ia menyendiri dan menyepi lagi.  

Sendiri bukan berarti berteman sepi.

Zikir dan doa yang meramaikan hati.

Rabu, 27 April 2022

Kekasih yang Hilang

 Kekasih Yang Hilang

Juharoh Juha 

***************


Jika "menghilang" membuat hati tenang. Tak kan ada yang namanya "datang."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Konon, disuatu negeri antah berantah. 

Yang gemah Ripah loh jinawi. Yang negerinya aman damai terkendali. Makmur dan kaya - raya hingga minyak goreng  sempat susah dicari.


Hiduplah sekelompok masyarakat yang rukun damai dan sejahtera. Mereka terdiri dari berbagai suku. Meskipun begitu, mereka selalu bersatu. Tidak ada perselisihan diantara mereka. 


Namun, ada satu hal yang dirasa janggal, di desa ini. Sebut saja desa Rempug Rukun. Di desa ini terjadi sebuah fenomena aneh. 


Konon, disetiap tahunnya. Khususnya dibulan ramadhan. Banyak jamaah yang berada di masjid menghilang. Dan tidak diketahui sebab musababnya. Dan anehnya lagi. Mereka merasa hal itu sebuah kejadian yang lumrah.  Sehingga tidak ada yang mencari atau lapor polisi.

Padahal jumlah jamaah yang hilang itu lebih dari jamaah yang ada.


Kejadian menghilangnya para jamaah biasany terjadi pada malam ke 7 sampai menjelang lebaran. Angka  7 bukan mereka anggap keramat. Namun itulah kenyataannya. Malam selanjutnya  menjadi sepi,tenang mencekam. Hanya berteman suara kipas angin yang berputar  diiringi  nyangian cicak di dinding.


Pada malam di Minggu pertama, jamaah masih penuh sesak memenuhi shaf di barisan masjid.  Hingga berdesak desakan.Tiba -  tiba dimalam berikutnya mendadak hilang. Hingga tinggal bersisa 1 atau dua shaf. Entah kemana para kekasih Allah yang konon ingin meraih seribu  bulan.


Menghilangnya mereka tidak bisa diketahui secara pasti. Dan tidak ada dari mereka yang meneliti atau mencari tahu keberadaan mereka.


Kejadian ini berulang setiap tahunnya . Dan sudah menjadi budaya. Keanehan kembali terjadi. Ketika di suatu pagi. Suara tahmid takbir dan tasbih berkumandang. Para jamaah yang hilang datang. Mereka kembali pulang  Dengan wajah berseri dan tampak senang. Pakaian merekapun terlihat baru. 


Mereka  berbondong bondong kembali menjadi jamaah. Mereka menyebutnya itu hari kemenangan. Mereka kembali menjadi jamaah. Yang pernah menghilang tanpa berita. Mereka bersalam salaman berpelukan dan bermaaf - maafan.


Terlihat kerukunan dan kedamaian.

Melepas rindu setelah sekian malam tak bertemu. Dalam sujud tarawih yang syahdu. Menjadi kekasih Allah yang tetap dirindu. Meski pernah menghilang setidaknya sudah berusaha datang. 

Untuk meraih kembali cinta Allah yang sempat mereka tinggalkan.


Semoga datangnya kembali  tak kan  berulang dan lepas lagi. 

Sehingga bisa menjadi hamba yang mempunyai derajat tertinggi. 


Yang pergi tak selamanya  hilang .

Datangnya  untuk menjadi insan yang menang.

  Menjaga Tri TA Juharoh Juha *************** Menjaga sesuatu  lebih susah dari pada mendapatkanya. Benarkah? Pertanyaan diatas tidak ...