Jumat, 29 April 2022

Langit Rindu

Langit Rindu

Juharoh Juha 

***************


Langitmu, langitku.

Masih seperti dulu,

Biru.


Kelabu telah berlalu.

Karna rindu.

Masih tetap bersemu.


Jangan biarkan cerutumu ,

Bersama candu.

Jika kau mabuk, siapa penawar rindu??Langit Rindu

Juharoh Juha 

***************


Langitmu, langitku.

Masih seperti dulu,

Biru.


Kelabu telah berlalu.

Karna rindu.

Masih tetap  bersemu.


Jangan biarkan cerutumu ,

Bersama candu.

Jika kau mabuk, siapa penawar rindu??

Lelahnya Lillah

 Lelahnya  Lillah


Juharoh Juha 

*************""

By Juharoh Juha 

***********"*******

Lelah

Dalam tetes peluh

Lelah yang  tanpa keluh

Lelahnya untuk  bhakti suci

Merawat permata hati

Menimangnya hingga tidur lagi

Dari pagi hingga malam hari.

Pejam mata tak lena lagi

Terusik rengek tangis tiada henti

Tengah  semua makhluk terbuai mimpi

Tengah alam sunyi sepi


Sendiri jaga

Tak peduli apa 

Melipur lara jadi tawa

Mengais tangis dalam lirih doa 

Tertawa meski tak bahagia

Pura puranya bukan dusta

Demi anaknya dapatkan bahagia


Sang ahli  surga

Sebutan yang pantas baginya

Bukan lagi pahala

Apalagi piala

Balasan baginya

Tapi surga 

Yang  bertahta ditelapak kakinya


Kalau bukan dia 

Siapa lagi

Yang rela bertaruh nyawa

Berkorban jiwa

Berserah raga

Tak mohon balas jasa

Tak pinta puji bahasa

Tak peduli derita menyapa

Bahkan nyawanya pun rela

Ia tukar dengan apa 

Demi seorang yang disebutnya buah hati

Belahan jiwa


Kalau bukan Lillah, apa yang ia harap?

Kalau bukan Lillah berapa upah ia dapat

Kalau bukan Lillah balas jasa  apa yang pantas dibuat?

Kalau bukan Lillah, sumpahnya tak jadi keramat!


Mengapa masih ada.

Sebutan anak durhaka?

Apakah neraka lebih indah tempatnya?

Sang Peri yang Mencari

 Sang Peri yang Mencari

Juharoh Juha 

**************


Ketika sembunyi tak lagi sunyi. Keluarlah  dari persembunyian. Agar kesunyian tak melambangkan kehilangan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Suatu malam,  dipenghujung ramadhan. Ada peri cantik. Yang sedang beri'tikaf di cangkangnya yang unik.Didalam  cangkang  ajaib itu ia merasa terusik. Ia mendengar suara bisik - bisik yang berisik.  

Kata mereka, ternyata di negeri entah berantah ada sebuah kisah. Tentang kehilangan jamaah  kekasih Allah.


Tiba - tiba timbul jiwa jurnalistiknya. Ingin mencari informasi tentang fenomena dipenghujung ramadhan ini.

Otaknya menelisik tanya. Apa penyebabnya. Kemana hilangnya para kekasih Allah ? Semoga mereka baik - baik saja. Doanya dalam hati.


Sang peri cantikpun menyesal, kenapa ia tak keluar sedari kemarin. Padahal kabar tentang fenomena yang terjadi di desa Rempug Rukun sudah sangat santer terdengar .


Diam - diam ia keluar dari persembunyiannya. Mulanya ia bersembunyi agar mencari tempat sunyi. Untuk lebih mendekatkan kepada sang pencipta alam raya ini. Namun ia merasa terganggu dengan kabar berita. Tentang jamaah yang hilang lagi. 


Ia keluar dari tempatnya bersembunyi. 

Yaitu cangkang ajaib.

Diam - diam ia berjalan ke arah masjid. Dilihatnya sekeliling ruang masjid. 

"Hmmm...."ia bergumam.

"Sepertinya  memang masjid tampak bertambah luas. Sehingga banyak ruang kosong tersisa.  Ataukah memang benar kabar yang tersiar. Tentang jamaah yang hilang." Pikirnya.


Sambil berfikir keras iapun berniat kembali untuk menyendiri lagi. Di perjalanan pulang ia melewati sebuah tempat. Dimana banyak orang berbondong - bondong  menjual dan membeli barang. Ada baju, celana, kue dan juga barang lainnya. Oh ..ternyata mereka disini. Pantas saja, dimasjid sepi.

Gumam sang peri.


Setelah pencatian informasi dirasa cukup. Ia ingin segera pulang.

Namun ditengah perjalanan, hidung peri yang mungil dan minimalis mencium aroma wangi. 

"Hmmmmm....lezatnya. Aroma apa ini?"

 Lewat dua mata sipitnya iapun mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


 Ternyata ada beberapa ibu - ibu Sholehah yang sedang lembur didapur. Mempersiapkan jamuan kue untuk para tamu dihari raya.

Ada bermacam kue yang cantik rupa dan bentuknya.Dan insya Allah pasti lezat rasanya. 


Karena rasa penasaran yang  begitu kuat, iapun masuk ke rumah para penduduk. Dari hasil  investigasinya ia menjumpai berbagai alasan. Mengapa ruang masjid tampak lebih luas dibanding minggu pertama awal Ramadhan.


Dilihatnya ada beberapa ibu yang mempunyai anak kecil. Para ibu itu sholat tarawih di rumah sambil mengasuh si buah hati.

Sementara sang bapak bergantian mengasuhnya.

Ada pula diantara mereka yang sedang sakit. Dan beberapa ibu yang sedang haid.


Sang peri cantik masih penasaran, kemana lagi,  menghilangnya para jamaah kekasih Allah.


Sang peri melihat segerombolan anak muda, naik motor kebut kebutan. Hingga sang peri sangat kaget dibuatnya 

Nggeeeng ..ngennggg....

Bremm bremmmm...breenm.

Sang peri cantik  mengikuti mereka dari belakang. Sambil naik di cangkang ajaibnya. 


Ternyata anak muda tersebut singgah disebuah cafe. Dan sekedar numpang wifian untuk bermain game sambil menyeruput  copi capucino yang nikmat.


Sang peripun bergegas pulang. Dan rasa penasarannya sudah hilang. 

Ia hanya berdoa, semoga para manusia yang dilihatnya. Apapun yang mereka lakukan mendapat keberkahan dibulan ramadhan. 


Sang peri kembali masuk dalam cangkang ajaib. Ia menyendiri dan menyepi lagi.  

Sendiri bukan berarti berteman sepi.

Zikir dan doa yang meramaikan hati.

Rabu, 27 April 2022

Tepian Sepi Marni


By Juha Mutiara


Seandainya dapat kulihat wajahmu. 

Pada pelangi di bawah bayangan mentari.

Atau pada gemintang di malam hari.

Tak mungkin ku relakan hatiku. 

Berlabuh pada sajak yang sepi.


Sajak indah,  yang pantas untuk melukiskan suasana hati Marni. 

Yang sepi.

sejak ditinggal suaminya pergi. 

Saat itu. ..

Saat hati marni belum tersentuh rasa sakit. Saat   jiwanya belum sekarat karena   hianat.


Tiga purnama telah berlalu. Marni tak mendengar kabar apapun dari Parno suaminya. Pamitnya pergi mencari peruntungan di negeri seberang. Kalimantan, pulau borneo.


"Dek, mas mau merantau ke kalimantan. Kata kang Gento,Disana banyak proyek bangunan gede. Dari pada jadi buruh tani di sini. Ndak cukup untuk makan sehari hari."


"Lha, memang ada uang buat sangu?"Marni menjawab setengah ragu.


"Aku numpang  kapal dagang, karo kang Gento." 


Marni tak menyahut. Ia asyik melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.

Masih panas. 

Sepanas aroma nafas marni yang memburu dalam ragu.

Tercium aroma matahari di baju yang dilipatnya. 

Ia menarik nafasnya, berat.


"Lha, terus aku nggak ditinggali duit?"

"Ngono maksudmu, mas?"

Nada bicara marni sedikit meninggi. Entah apa yang barusan hinggap difikirannya.


Parno menggeleng. Kemudian tersenyum. 

Kecut.

"Nanti aku kirimi."

Sahut parno kemudian.


Sampai keesokan harinya Parno pun pergi. Dan membiarkan Marni mencari jalan hidupnya sendiri. Menafkahi  anak semata wayangnya. Asti, tak lagi minta jajan. Boro boro minum susu. Makan dengan nasi lauk garam saja sudah alhamdulillah.


Marni kemudian jadi buruh cuci di rumah bu lurah. Lumayan buat beli beras dan lauk sehari hari. Sambil menunggu kiriman dari suaminya. Tapi, boro-boro kiriman uang. Kirim kabarpun, tak pernah. Padahal waktu itu Marni sudah memberi nomer telepon mang Apin. Tetangga depan rumah. 


"Asti ingin beli sepatu baru mak. Jari kaki  asti sudah pada ngintip semua . Alias bolong."

Pinta asti suatu hari.


"Iya...tunggu kiriman dari bapakmu."

Begitu jawaban Marni setiap saat asti meminta sesuatu.


Tapi sekarang tidak lagi. Sejak mendapat kabar yang dinanti.

Ia juga tak lagi berteman sepi. 

Sejak ia tahu, bahwa Parno tak mungkin kembali.

Sejak...

Sejak...

Ahh..Marni tak sanggup meneruskan kata katanya lagi.


Air mata yang hangat meleleh dari sudut matanya. Menjawab kalimat yang tak sanggup diselesaikan lewat bibirnya.


"Kenapa nangis, mak? Uang kiriman bapak kurang?"

Tanya Asti tanpa basa basi.


"Ah, nnggak. Ngapain mikirin uang. Orang mata emak kelilipan.. "Jawab marni sambil menyeka air matanya.


Asti tak hirau lagi dengan jawaban ibunya. Jawaban yang ia tahu tentang kebenarannya. Lebih baik ia  asyik memandangi sepatu barunya.


Sepatu yang ia tak tau dari mana emaknya mendapatkan uang. Yang Asti tahu, bapaknya sudah kirim uang. Dan ia merasa sudah sangat senang.


Tiga hari  yang  lalu terdengar kabar, kalau kang Gento pulang. Dan malam tadi ia datang bertandang. Marni sangat senang. Siapa tahu suaminya ada mengirim uang. Setidaknya ia dengar kabar  tentang suaminya. 


"Maaf jeng Marni. Parno disana sudah menikah lagi. Dengan janda anak tiga."


Bumi tempat Marni berpijak seakan runtuh. Langit tempatnya bernaung seakan bergemuruh. Menghujami  jutaan meteor panas. Menembus jantung dan meluluhlantakkan sendi sendinya. Ia bagai  daging tak bertulang.


Kang  Gento mengulurkan sejumlah uang. 

"Ini, untuk jajan anakmu." 

Diletakkannya uang itu  di tangan Marni yang tergolek lemas.


Marni  tak tau lagi harus berkata apa. Ucapan terima kasih rasanya tak rela ia ucapkan.  Untuk sebuah belas kasihan. Apalagi untuk kabar yang baru ia dengar. Dari seorang   yang membujuk suaminya pergi merantau. Hingga suaminya menghancurkan biduk rumah tangganya.


Sejak itu, Marni tak mau lagi berteman sepi dan menanti. Meski bayang Parno selalu hadir dalam mimpi. 


Biarlah sendiri, asal ia tak lagi menanti.

Dalam  sepi yang tak bertepi. 


#jeniuswriting

#menulisuntuksedekah

#virusbahagia

Mulut Harimau



Juharoh Juha 


***************

Ketika mulutmu  adalah harimaumu.

Maka senjatamu akan membunuhmu.

Masihkah kau meragu?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Pernahkah mendengar peribahasa yang sepadan artinya dengan opening di atas?

Pastinya dong.

Pasti tahu artinya kan?

Tentu.

Intinya jaga mulut.

Jaga ucapan.

Jangan sampai salah sebut.

Nanti kau termakan oleh kata kata yang terlanjur kau ucapkan.


Kalau sudah ludah kau buang, mana mungkin kau jilat kembali, kan?

Jangan alasan lidah tak bertulang. Maka boleh ngomong sembarang.


Atau pakai dalil manusia tempat salah dan lupa. Lalu boleh berkata apa saja. Lalu minta maaf seenaknya.Tanpa memikirkan orang yang sudah jadi korban ketajaman alias keganasan ucapannya.


Daripada harus menjilat ludah yang sudah dibuang.

Mending jangan sembarangan meludah.

Hati hati sist and bro...

Mendingan jilat Oreo...


~~~~~~~~~~~~~

Mulutmu harimaumu.

Ucapanmu akan mencelakai dirimu.

Mau???

Kekasih yang Hilang

 Kekasih Yang Hilang

Juharoh Juha 

***************


Jika "menghilang" membuat hati tenang. Tak kan ada yang namanya "datang."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Konon, disuatu negeri antah berantah. 

Yang gemah Ripah loh jinawi. Yang negerinya aman damai terkendali. Makmur dan kaya - raya hingga minyak goreng  sempat susah dicari.


Hiduplah sekelompok masyarakat yang rukun damai dan sejahtera. Mereka terdiri dari berbagai suku. Meskipun begitu, mereka selalu bersatu. Tidak ada perselisihan diantara mereka. 


Namun, ada satu hal yang dirasa janggal, di desa ini. Sebut saja desa Rempug Rukun. Di desa ini terjadi sebuah fenomena aneh. 


Konon, disetiap tahunnya. Khususnya dibulan ramadhan. Banyak jamaah yang berada di masjid menghilang. Dan tidak diketahui sebab musababnya. Dan anehnya lagi. Mereka merasa hal itu sebuah kejadian yang lumrah.  Sehingga tidak ada yang mencari atau lapor polisi.

Padahal jumlah jamaah yang hilang itu lebih dari jamaah yang ada.


Kejadian menghilangnya para jamaah biasany terjadi pada malam ke 7 sampai menjelang lebaran. Angka  7 bukan mereka anggap keramat. Namun itulah kenyataannya. Malam selanjutnya  menjadi sepi,tenang mencekam. Hanya berteman suara kipas angin yang berputar  diiringi  nyangian cicak di dinding.


Pada malam di Minggu pertama, jamaah masih penuh sesak memenuhi shaf di barisan masjid.  Hingga berdesak desakan.Tiba -  tiba dimalam berikutnya mendadak hilang. Hingga tinggal bersisa 1 atau dua shaf. Entah kemana para kekasih Allah yang konon ingin meraih seribu  bulan.


Menghilangnya mereka tidak bisa diketahui secara pasti. Dan tidak ada dari mereka yang meneliti atau mencari tahu keberadaan mereka.


Kejadian ini berulang setiap tahunnya . Dan sudah menjadi budaya. Keanehan kembali terjadi. Ketika di suatu pagi. Suara tahmid takbir dan tasbih berkumandang. Para jamaah yang hilang datang. Mereka kembali pulang  Dengan wajah berseri dan tampak senang. Pakaian merekapun terlihat baru. 


Mereka  berbondong bondong kembali menjadi jamaah. Mereka menyebutnya itu hari kemenangan. Mereka kembali menjadi jamaah. Yang pernah menghilang tanpa berita. Mereka bersalam salaman berpelukan dan bermaaf - maafan.


Terlihat kerukunan dan kedamaian.

Melepas rindu setelah sekian malam tak bertemu. Dalam sujud tarawih yang syahdu. Menjadi kekasih Allah yang tetap dirindu. Meski pernah menghilang setidaknya sudah berusaha datang. 

Untuk meraih kembali cinta Allah yang sempat mereka tinggalkan.


Semoga datangnya kembali  tak kan  berulang dan lepas lagi. 

Sehingga bisa menjadi hamba yang mempunyai derajat tertinggi. 


Yang pergi tak selamanya  hilang .

Datangnya  untuk menjadi insan yang menang.

Uji dan Puji

 Uji dan Puji

Juharoh Juha 


Dalam hidup ini

Ada uji

Ada  puji

Kuatkanlah  kendali...


Ketika diuji 

Banyaklah  bersabar

Agar sadar diri 

Ketika dipuji 

Banyak beristighfar

Agar tak lupa diri

Itulah kendali 


Uji dan puji

Membuat diri jadi lebih terpuji

Uji jangan jadikan benci taqdir Ilahi

Puji jangan buat jadi tinggi hati


Uji diberi untuk tingkatkan kualitas diri

Dianugerahi puji untuk tambah rendah hati

Jangan  takabur  ketika dipuji

Banyak tafakkur ketika diuji


Bismillah niatkan diri

Jalani hidup ini 

Dengan segala uji dan puji

Karena itu taqdir Ilahi

Jumat, 22 April 2022

Tak Pasti

 Malamku hilang 

Terbang membayang

Sejuta kenang 

Hilang datang

Pagiku sembunyi

Tanpa mentari 

Menguak elegi

Hilang bayang disisi

Siangku berlari

Menjemput senja

Yang indah merona

Menanti janji

Malam datang lagi

Membawa mimpi

Tentang esok hari


Masa datang silih berganti

Dan aku masih disini

Menanti musim berganti



Cerita Tanpa Suara

 Tanpa Suara

Juharoh Juha 

**************


Kuceritakan padamu

Melalui sajak ini

Tentang berapa malamku yang hilang

Siangku yang gersang

Pagiku yang terbuang

Dan senjaku yang melayang


Oleh Bayu

Yang pernah datang

Pada suatu petang


Kini,

Letih sudah

Jiwa berpura pura

Lelah sudah 

Lidah bersandiwara


Lalu kusandarkan  doa

Yang menguatkan jiwa


Sekali lagi....

Kukisahkan padamu,

Dalam sajakku ini,

Tentang pedang yang menghunus

Tentang panah yang menusuk

Tentang rasa yang terhempas


Tentang rasa sakit yang menghujam

Tentang pilu sembilu  menikam

Yang bisa kuredam

Ikhlas tanpa dendam


Hanya padamu

Kukisahkan ceritaku


Dalam gores pena 

Tanpa suara

Sajak Malam

 Sajak Malam

Juharoh Juha 

***************


Tahukah kau?

Berapa serdadu rindu

Yang meski kubunuh?

Tanpa peluru.


Tahukah kau?

Berapa degup 

Yang meredup

Karena taqdir yang menghalau


Buyar

Debar


Oleh yang Maha Suara


Pudar

Sinar


Oleh cahaya diatas cahaya


Hati sanubari

Yang bersabda.


#puisidadakan

Rabu, 20 April 2022

Ada Apa


 

Ada Apa

By Juharoh juha


***********

Ada angin

Ada sejuk menerpa

Ada jiwa - jiwa yang hampa

Ada burung - burung kecil

Berkicau riang gembira

Berjejer bertengger 

Pada ranting kering


                 Disana, 

                         Dipohon Cemara 


Ada Bayu mendayu

Berhembus pelan perlahan

Daun  - daun berguguran

Jatuh ketanah berhamburan

Satu persatu


                      Bercerai 

                             Berderai

                                    Bersorak sorai      

            


Ada sipit mengintip malu

Ada warna abu

Menyemu rindu


Bersembunyi sunyi

                             Disini

                                     Di balik sepi


Adakah  penghuni hati

Yang peduli?


Senin, 18 April 2022

SEPERTI KAWAN

 


Juharoh Juha


Seekor cicak

Berdecak

Cek cek cekkk

Mengejek

Sejenak  terhenyak

Bertanya sendiri

Siapa diri

Kenapa hati

Tiada iri berteman dengki

Namun benci menodai 

Kutatap langit masih gelap 

Mata terbelalak menatap 

Otak terkesiap

Hati meratap

Lemah lunglai ruas sendi persendi

Bagai burung  yang patah sayap

Tak bisa terbang berteman awan

Berkicau sebentar lalu  hinggap ke dahan

Diam sepi tiada kawan


            Entah dimana kawan 


            Menjelma serupa  lawan


            Terkadang seperti kawan.


Semua tampak tak lagi menawan.

Meski wajah terlihat ayu rupawan

Entah kenapa hati tak lagi tertawan

Kemana hati kan tertautkan

Semua bisu bertemankan

Segala diam jadi pilihan

Siapa kawan?

Mana lawan

Dalam bimbang  seorang diri

Meratapi pilu hati

Yang terrantai sepi

Kapankah?

Kembali lagi?






Minggu, 17 April 2022

Dawai Gawai

 Dawai Gawai

By Juharoh Juha









Terburai derai 

Ramai 

Damai

Permai

Oleh hiruk pikuk dawai gawai

Hingga,

Dalam mimpi sayup sayup kudengar

Irama nada gembira

Berganti suara harpa

Menyepi rasa.

Katanya,

Dawai asmara mengusik jiwa

Yang tak lagi merdeka

Lalu,

Dengan apa kutanya

Dengan apa ku kata

Dengan apa ku nyata

Tak lagi dengar dua telinga

Tak lagi menyapa hati membuta


Dengar!

Dengarkan!

Suara hati ini berteriak lantang sekali

Tak lagi bisa kembali

Pada kisah semula jadi

Tak dapat lagi terbagi

Sebongkah hati ini

Ianya, terlalu suci 

Untuk dicampakkan 

Untuk dihempaskan

Pada kisah silam

Di ujung malam


Meski bayang datang

Tak mungkin kenang kuulang

Tak mungkin rasa kupaksa jua

Datang dalam masa

Yang tak lagi semestinya


Untuk yang tak terlupakan

Kudoakan

Kau dapat berteman 

Dengan bunga indah ditaman impian


Dan pintaku lagi,

Jangan rusak layar hati

Nan suci,




Benci Termahal

 



          By Juharoh Juha



Sesederhana itukah bahagia?

Tanpa balutan permata

Tanpa kilau harta

Susah senang bersama 

Sepedih itukah luka?

Semahal itukah benci durja?

Hingga,

Tergadai harga diri mulia

Tenggelam marwah manusia

Kemana perginya

              Senyum sapa 

                         Tanya 

                                 Tawa ceria

Mengapa semua

Berganti benci merenggut bahagia

Adakah khianat jadi warna?

Ataukah salah dalam prasangka?

Apa mungkin tersilaf kata?

                        Pudar rasa

                               Hilang saudara

Kemana perginya sang maaf yang bertakhta?

Kemana jiwa - jiwa syuhada

Yang berjuang tanpa senjata

Dimana letak singgasana cinta?

Yang ada hanya neraka

Dalam balut surga dunia

Apakah ini pertanda

Terompet sangkakala kan datang jua?

Akankah?


Rabu, 13 April 2022

HARUS PULANG

 Harus Pulang

Juharoh Juha 


Aku pernah disini

Di taman ini


Indah memang

Banyak bunga berkembang

Kupu dan kumbang

Menari senang

Bernyanyi riang

Bunga bergoyang

Tertiup bayu yang datang


Aroma bunga wangi menebar

Kumbang datang menghisap nektar

Sebentar

Lalu pergi terbang 

Melayang

Mencari arah pulang 


Indah memang

Taman di Kota Kembang


Kulihat daun daun  yang hijau segar

Menetes embun  dari pucuknya

Sisa hujan semalam

Masih melekat erat

Pada pucuk daun yang mulai layu

Terkena terik tanpa tiup bayu


Dendang suara lagu merdu

Terdengar syahdu menghibur kalbu

Musiknya yang indah

Membuat jiwaku kembali tergugah


Indah memang indah

Hingga aku teringat Allah

Tuhan pencipta jagat raya



Apalah artinya Taman Asia Afrika

Dibanding Firdaus milik - Nya


Indah memang,

Tapi aku harus pulang

Ada yang menantiku datang

Dengan hati lapang

Tanpa teringat kenang

Indahnya taman dikota kembang



Yang Silam

kepadamu

duhai angin lalu

dengan apa

harus ku halau

hadirmu

yang membuat risau

haruskah ku berlari, pergi

tuk menutup lembar ini

karena  hadirmu,

di musim ini

RINDU SEJATI

 Jangan tanya lagi padaku

Apa hakekat merindumu

Karena kau tlah tahu itu

Itu hanya sebuah harap bermuara temu

Yang semu

Pada siapa ia menyapa?

Dan siapa pemiliknya?

Bebas kau teruntukkan pada siapa.


Tuhan  pemilik semesta?


                Yang baqa

                     Pemurah

                           Pemilik segala


Atau makhluk-Nya ?


                  Yang fana

                      Lemah

                            Tiada daya


Asalkan,

Jangan sampai salah kau artikan

Karena harapan perjumpaan

Pada selain Tuhan

Adalah sebuah keniscayaan.

Yang meragukan.



  Menjaga Tri TA Juharoh Juha *************** Menjaga sesuatu  lebih susah dari pada mendapatkanya. Benarkah? Pertanyaan diatas tidak ...