By Juha Mutiara
Seandainya dapat kulihat wajahmu.
Pada pelangi di bawah bayangan mentari.
Atau pada gemintang di malam hari.
Tak mungkin ku relakan hatiku.
Berlabuh pada sajak yang sepi.
Sajak indah, yang pantas untuk melukiskan suasana hati Marni.
Yang sepi.
sejak ditinggal suaminya pergi.
Saat itu. ..
Saat hati marni belum tersentuh rasa sakit. Saat jiwanya belum sekarat karena hianat.
Tiga purnama telah berlalu. Marni tak mendengar kabar apapun dari Parno suaminya. Pamitnya pergi mencari peruntungan di negeri seberang. Kalimantan, pulau borneo.
"Dek, mas mau merantau ke kalimantan. Kata kang Gento,Disana banyak proyek bangunan gede. Dari pada jadi buruh tani di sini. Ndak cukup untuk makan sehari hari."
"Lha, memang ada uang buat sangu?"Marni menjawab setengah ragu.
"Aku numpang kapal dagang, karo kang Gento."
Marni tak menyahut. Ia asyik melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.
Masih panas.
Sepanas aroma nafas marni yang memburu dalam ragu.
Tercium aroma matahari di baju yang dilipatnya.
Ia menarik nafasnya, berat.
"Lha, terus aku nggak ditinggali duit?"
"Ngono maksudmu, mas?"
Nada bicara marni sedikit meninggi. Entah apa yang barusan hinggap difikirannya.
Parno menggeleng. Kemudian tersenyum.
Kecut.
"Nanti aku kirimi."
Sahut parno kemudian.
Sampai keesokan harinya Parno pun pergi. Dan membiarkan Marni mencari jalan hidupnya sendiri. Menafkahi anak semata wayangnya. Asti, tak lagi minta jajan. Boro boro minum susu. Makan dengan nasi lauk garam saja sudah alhamdulillah.
Marni kemudian jadi buruh cuci di rumah bu lurah. Lumayan buat beli beras dan lauk sehari hari. Sambil menunggu kiriman dari suaminya. Tapi, boro-boro kiriman uang. Kirim kabarpun, tak pernah. Padahal waktu itu Marni sudah memberi nomer telepon mang Apin. Tetangga depan rumah.
"Asti ingin beli sepatu baru mak. Jari kaki asti sudah pada ngintip semua . Alias bolong."
Pinta asti suatu hari.
"Iya...tunggu kiriman dari bapakmu."
Begitu jawaban Marni setiap saat asti meminta sesuatu.
Tapi sekarang tidak lagi. Sejak mendapat kabar yang dinanti.
Ia juga tak lagi berteman sepi.
Sejak ia tahu, bahwa Parno tak mungkin kembali.
Sejak...
Sejak...
Ahh..Marni tak sanggup meneruskan kata katanya lagi.
Air mata yang hangat meleleh dari sudut matanya. Menjawab kalimat yang tak sanggup diselesaikan lewat bibirnya.
"Kenapa nangis, mak? Uang kiriman bapak kurang?"
Tanya Asti tanpa basa basi.
"Ah, nnggak. Ngapain mikirin uang. Orang mata emak kelilipan.. "Jawab marni sambil menyeka air matanya.
Asti tak hirau lagi dengan jawaban ibunya. Jawaban yang ia tahu tentang kebenarannya. Lebih baik ia asyik memandangi sepatu barunya.
Sepatu yang ia tak tau dari mana emaknya mendapatkan uang. Yang Asti tahu, bapaknya sudah kirim uang. Dan ia merasa sudah sangat senang.
Tiga hari yang lalu terdengar kabar, kalau kang Gento pulang. Dan malam tadi ia datang bertandang. Marni sangat senang. Siapa tahu suaminya ada mengirim uang. Setidaknya ia dengar kabar tentang suaminya.
"Maaf jeng Marni. Parno disana sudah menikah lagi. Dengan janda anak tiga."
Bumi tempat Marni berpijak seakan runtuh. Langit tempatnya bernaung seakan bergemuruh. Menghujami jutaan meteor panas. Menembus jantung dan meluluhlantakkan sendi sendinya. Ia bagai daging tak bertulang.
Kang Gento mengulurkan sejumlah uang.
"Ini, untuk jajan anakmu."
Diletakkannya uang itu di tangan Marni yang tergolek lemas.
Marni tak tau lagi harus berkata apa. Ucapan terima kasih rasanya tak rela ia ucapkan. Untuk sebuah belas kasihan. Apalagi untuk kabar yang baru ia dengar. Dari seorang yang membujuk suaminya pergi merantau. Hingga suaminya menghancurkan biduk rumah tangganya.
Sejak itu, Marni tak mau lagi berteman sepi dan menanti. Meski bayang Parno selalu hadir dalam mimpi.
Biarlah sendiri, asal ia tak lagi menanti.
Dalam sepi yang tak bertepi.
#jeniuswriting
#menulisuntuksedekah
#virusbahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar