Rabu, 27 April 2022

Tepian Sepi Marni


By Juha Mutiara


Seandainya dapat kulihat wajahmu. 

Pada pelangi di bawah bayangan mentari.

Atau pada gemintang di malam hari.

Tak mungkin ku relakan hatiku. 

Berlabuh pada sajak yang sepi.


Sajak indah,  yang pantas untuk melukiskan suasana hati Marni. 

Yang sepi.

sejak ditinggal suaminya pergi. 

Saat itu. ..

Saat hati marni belum tersentuh rasa sakit. Saat   jiwanya belum sekarat karena   hianat.


Tiga purnama telah berlalu. Marni tak mendengar kabar apapun dari Parno suaminya. Pamitnya pergi mencari peruntungan di negeri seberang. Kalimantan, pulau borneo.


"Dek, mas mau merantau ke kalimantan. Kata kang Gento,Disana banyak proyek bangunan gede. Dari pada jadi buruh tani di sini. Ndak cukup untuk makan sehari hari."


"Lha, memang ada uang buat sangu?"Marni menjawab setengah ragu.


"Aku numpang  kapal dagang, karo kang Gento." 


Marni tak menyahut. Ia asyik melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.

Masih panas. 

Sepanas aroma nafas marni yang memburu dalam ragu.

Tercium aroma matahari di baju yang dilipatnya. 

Ia menarik nafasnya, berat.


"Lha, terus aku nggak ditinggali duit?"

"Ngono maksudmu, mas?"

Nada bicara marni sedikit meninggi. Entah apa yang barusan hinggap difikirannya.


Parno menggeleng. Kemudian tersenyum. 

Kecut.

"Nanti aku kirimi."

Sahut parno kemudian.


Sampai keesokan harinya Parno pun pergi. Dan membiarkan Marni mencari jalan hidupnya sendiri. Menafkahi  anak semata wayangnya. Asti, tak lagi minta jajan. Boro boro minum susu. Makan dengan nasi lauk garam saja sudah alhamdulillah.


Marni kemudian jadi buruh cuci di rumah bu lurah. Lumayan buat beli beras dan lauk sehari hari. Sambil menunggu kiriman dari suaminya. Tapi, boro-boro kiriman uang. Kirim kabarpun, tak pernah. Padahal waktu itu Marni sudah memberi nomer telepon mang Apin. Tetangga depan rumah. 


"Asti ingin beli sepatu baru mak. Jari kaki  asti sudah pada ngintip semua . Alias bolong."

Pinta asti suatu hari.


"Iya...tunggu kiriman dari bapakmu."

Begitu jawaban Marni setiap saat asti meminta sesuatu.


Tapi sekarang tidak lagi. Sejak mendapat kabar yang dinanti.

Ia juga tak lagi berteman sepi. 

Sejak ia tahu, bahwa Parno tak mungkin kembali.

Sejak...

Sejak...

Ahh..Marni tak sanggup meneruskan kata katanya lagi.


Air mata yang hangat meleleh dari sudut matanya. Menjawab kalimat yang tak sanggup diselesaikan lewat bibirnya.


"Kenapa nangis, mak? Uang kiriman bapak kurang?"

Tanya Asti tanpa basa basi.


"Ah, nnggak. Ngapain mikirin uang. Orang mata emak kelilipan.. "Jawab marni sambil menyeka air matanya.


Asti tak hirau lagi dengan jawaban ibunya. Jawaban yang ia tahu tentang kebenarannya. Lebih baik ia  asyik memandangi sepatu barunya.


Sepatu yang ia tak tau dari mana emaknya mendapatkan uang. Yang Asti tahu, bapaknya sudah kirim uang. Dan ia merasa sudah sangat senang.


Tiga hari  yang  lalu terdengar kabar, kalau kang Gento pulang. Dan malam tadi ia datang bertandang. Marni sangat senang. Siapa tahu suaminya ada mengirim uang. Setidaknya ia dengar kabar  tentang suaminya. 


"Maaf jeng Marni. Parno disana sudah menikah lagi. Dengan janda anak tiga."


Bumi tempat Marni berpijak seakan runtuh. Langit tempatnya bernaung seakan bergemuruh. Menghujami  jutaan meteor panas. Menembus jantung dan meluluhlantakkan sendi sendinya. Ia bagai  daging tak bertulang.


Kang  Gento mengulurkan sejumlah uang. 

"Ini, untuk jajan anakmu." 

Diletakkannya uang itu  di tangan Marni yang tergolek lemas.


Marni  tak tau lagi harus berkata apa. Ucapan terima kasih rasanya tak rela ia ucapkan.  Untuk sebuah belas kasihan. Apalagi untuk kabar yang baru ia dengar. Dari seorang   yang membujuk suaminya pergi merantau. Hingga suaminya menghancurkan biduk rumah tangganya.


Sejak itu, Marni tak mau lagi berteman sepi dan menanti. Meski bayang Parno selalu hadir dalam mimpi. 


Biarlah sendiri, asal ia tak lagi menanti.

Dalam  sepi yang tak bertepi. 


#jeniuswriting

#menulisuntuksedekah

#virusbahagia

Mulut Harimau



Juharoh Juha 


***************

Ketika mulutmu  adalah harimaumu.

Maka senjatamu akan membunuhmu.

Masihkah kau meragu?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Pernahkah mendengar peribahasa yang sepadan artinya dengan opening di atas?

Pastinya dong.

Pasti tahu artinya kan?

Tentu.

Intinya jaga mulut.

Jaga ucapan.

Jangan sampai salah sebut.

Nanti kau termakan oleh kata kata yang terlanjur kau ucapkan.


Kalau sudah ludah kau buang, mana mungkin kau jilat kembali, kan?

Jangan alasan lidah tak bertulang. Maka boleh ngomong sembarang.


Atau pakai dalil manusia tempat salah dan lupa. Lalu boleh berkata apa saja. Lalu minta maaf seenaknya.Tanpa memikirkan orang yang sudah jadi korban ketajaman alias keganasan ucapannya.


Daripada harus menjilat ludah yang sudah dibuang.

Mending jangan sembarangan meludah.

Hati hati sist and bro...

Mendingan jilat Oreo...


~~~~~~~~~~~~~

Mulutmu harimaumu.

Ucapanmu akan mencelakai dirimu.

Mau???

Kekasih yang Hilang

 Kekasih Yang Hilang

Juharoh Juha 

***************


Jika "menghilang" membuat hati tenang. Tak kan ada yang namanya "datang."

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Konon, disuatu negeri antah berantah. 

Yang gemah Ripah loh jinawi. Yang negerinya aman damai terkendali. Makmur dan kaya - raya hingga minyak goreng  sempat susah dicari.


Hiduplah sekelompok masyarakat yang rukun damai dan sejahtera. Mereka terdiri dari berbagai suku. Meskipun begitu, mereka selalu bersatu. Tidak ada perselisihan diantara mereka. 


Namun, ada satu hal yang dirasa janggal, di desa ini. Sebut saja desa Rempug Rukun. Di desa ini terjadi sebuah fenomena aneh. 


Konon, disetiap tahunnya. Khususnya dibulan ramadhan. Banyak jamaah yang berada di masjid menghilang. Dan tidak diketahui sebab musababnya. Dan anehnya lagi. Mereka merasa hal itu sebuah kejadian yang lumrah.  Sehingga tidak ada yang mencari atau lapor polisi.

Padahal jumlah jamaah yang hilang itu lebih dari jamaah yang ada.


Kejadian menghilangnya para jamaah biasany terjadi pada malam ke 7 sampai menjelang lebaran. Angka  7 bukan mereka anggap keramat. Namun itulah kenyataannya. Malam selanjutnya  menjadi sepi,tenang mencekam. Hanya berteman suara kipas angin yang berputar  diiringi  nyangian cicak di dinding.


Pada malam di Minggu pertama, jamaah masih penuh sesak memenuhi shaf di barisan masjid.  Hingga berdesak desakan.Tiba -  tiba dimalam berikutnya mendadak hilang. Hingga tinggal bersisa 1 atau dua shaf. Entah kemana para kekasih Allah yang konon ingin meraih seribu  bulan.


Menghilangnya mereka tidak bisa diketahui secara pasti. Dan tidak ada dari mereka yang meneliti atau mencari tahu keberadaan mereka.


Kejadian ini berulang setiap tahunnya . Dan sudah menjadi budaya. Keanehan kembali terjadi. Ketika di suatu pagi. Suara tahmid takbir dan tasbih berkumandang. Para jamaah yang hilang datang. Mereka kembali pulang  Dengan wajah berseri dan tampak senang. Pakaian merekapun terlihat baru. 


Mereka  berbondong bondong kembali menjadi jamaah. Mereka menyebutnya itu hari kemenangan. Mereka kembali menjadi jamaah. Yang pernah menghilang tanpa berita. Mereka bersalam salaman berpelukan dan bermaaf - maafan.


Terlihat kerukunan dan kedamaian.

Melepas rindu setelah sekian malam tak bertemu. Dalam sujud tarawih yang syahdu. Menjadi kekasih Allah yang tetap dirindu. Meski pernah menghilang setidaknya sudah berusaha datang. 

Untuk meraih kembali cinta Allah yang sempat mereka tinggalkan.


Semoga datangnya kembali  tak kan  berulang dan lepas lagi. 

Sehingga bisa menjadi hamba yang mempunyai derajat tertinggi. 


Yang pergi tak selamanya  hilang .

Datangnya  untuk menjadi insan yang menang.

Uji dan Puji

 Uji dan Puji

Juharoh Juha 


Dalam hidup ini

Ada uji

Ada  puji

Kuatkanlah  kendali...


Ketika diuji 

Banyaklah  bersabar

Agar sadar diri 

Ketika dipuji 

Banyak beristighfar

Agar tak lupa diri

Itulah kendali 


Uji dan puji

Membuat diri jadi lebih terpuji

Uji jangan jadikan benci taqdir Ilahi

Puji jangan buat jadi tinggi hati


Uji diberi untuk tingkatkan kualitas diri

Dianugerahi puji untuk tambah rendah hati

Jangan  takabur  ketika dipuji

Banyak tafakkur ketika diuji


Bismillah niatkan diri

Jalani hidup ini 

Dengan segala uji dan puji

Karena itu taqdir Ilahi

Jumat, 22 April 2022

Tak Pasti

 Malamku hilang 

Terbang membayang

Sejuta kenang 

Hilang datang

Pagiku sembunyi

Tanpa mentari 

Menguak elegi

Hilang bayang disisi

Siangku berlari

Menjemput senja

Yang indah merona

Menanti janji

Malam datang lagi

Membawa mimpi

Tentang esok hari


Masa datang silih berganti

Dan aku masih disini

Menanti musim berganti



Cerita Tanpa Suara

 Tanpa Suara

Juharoh Juha 

**************


Kuceritakan padamu

Melalui sajak ini

Tentang berapa malamku yang hilang

Siangku yang gersang

Pagiku yang terbuang

Dan senjaku yang melayang


Oleh Bayu

Yang pernah datang

Pada suatu petang


Kini,

Letih sudah

Jiwa berpura pura

Lelah sudah 

Lidah bersandiwara


Lalu kusandarkan  doa

Yang menguatkan jiwa


Sekali lagi....

Kukisahkan padamu,

Dalam sajakku ini,

Tentang pedang yang menghunus

Tentang panah yang menusuk

Tentang rasa yang terhempas


Tentang rasa sakit yang menghujam

Tentang pilu sembilu  menikam

Yang bisa kuredam

Ikhlas tanpa dendam


Hanya padamu

Kukisahkan ceritaku


Dalam gores pena 

Tanpa suara

Sajak Malam

 Sajak Malam

Juharoh Juha 

***************


Tahukah kau?

Berapa serdadu rindu

Yang meski kubunuh?

Tanpa peluru.


Tahukah kau?

Berapa degup 

Yang meredup

Karena taqdir yang menghalau


Buyar

Debar


Oleh yang Maha Suara


Pudar

Sinar


Oleh cahaya diatas cahaya


Hati sanubari

Yang bersabda.


#puisidadakan

  Menjaga Tri TA Juharoh Juha *************** Menjaga sesuatu  lebih susah dari pada mendapatkanya. Benarkah? Pertanyaan diatas tidak ...