Jumat, 20 Mei 2022

LUKISAN MALAMKU

Juharoh Juha 

***************


Kusuka melukis malam

Dalam selimut kelam


Meski  ia bersahabat gelap

Dalam heningnya, kudekap


Banyak isyarat yang datang kutangkap

Pesan semesta dapat kuserap


Tanpa ada degup yang berderap

Dalam sunyi senyap


Inspirasiku merayap

Padamu malaikat tanpa sayap 


Ada bayangmu yang  sejenak datang

Lalu menghilang


Dalam kelebat bayang

Hingga fajar datang menjelang.


Lukisan  namamu

Abadi  selalu


Dalam bait doa

Di sepertiga  masa 


          Yang kujaga.....

Kata Sakti

 Kata Sakti


Juharoh Juha 

***************


Aku tahu, tapi...

Aku ingin,tapi...

Aku bisa, tapi...

Ah..

Banyak benar tapimu

Buang saja tapimu


Tapi,

Sebuah kata sakti

Menghindar dari yang benar

Menyerah sebelum melangkah

Mengalah tak merasa bersalah

Tak adakah kata pengganti

Yang lebih seksi untuk dinikmati

Yang lebih nikmat untuk disantap

Yang lebih familiar untuk didengar


Tapi,

Hanya sebuah kata sakti 

Untuk sebuah alasan 

Berteman kemalasan

Dan keputusasaan

Juga lambang ketidakberdayaan

Yang tak berujung kemenangan.

Jumat, 29 April 2022

Langit Rindu

Langit Rindu

Juharoh Juha 

***************


Langitmu, langitku.

Masih seperti dulu,

Biru.


Kelabu telah berlalu.

Karna rindu.

Masih tetap bersemu.


Jangan biarkan cerutumu ,

Bersama candu.

Jika kau mabuk, siapa penawar rindu??Langit Rindu

Juharoh Juha 

***************


Langitmu, langitku.

Masih seperti dulu,

Biru.


Kelabu telah berlalu.

Karna rindu.

Masih tetap  bersemu.


Jangan biarkan cerutumu ,

Bersama candu.

Jika kau mabuk, siapa penawar rindu??

Lelahnya Lillah

 Lelahnya  Lillah


Juharoh Juha 

*************""

By Juharoh Juha 

***********"*******

Lelah

Dalam tetes peluh

Lelah yang  tanpa keluh

Lelahnya untuk  bhakti suci

Merawat permata hati

Menimangnya hingga tidur lagi

Dari pagi hingga malam hari.

Pejam mata tak lena lagi

Terusik rengek tangis tiada henti

Tengah  semua makhluk terbuai mimpi

Tengah alam sunyi sepi


Sendiri jaga

Tak peduli apa 

Melipur lara jadi tawa

Mengais tangis dalam lirih doa 

Tertawa meski tak bahagia

Pura puranya bukan dusta

Demi anaknya dapatkan bahagia


Sang ahli  surga

Sebutan yang pantas baginya

Bukan lagi pahala

Apalagi piala

Balasan baginya

Tapi surga 

Yang  bertahta ditelapak kakinya


Kalau bukan dia 

Siapa lagi

Yang rela bertaruh nyawa

Berkorban jiwa

Berserah raga

Tak mohon balas jasa

Tak pinta puji bahasa

Tak peduli derita menyapa

Bahkan nyawanya pun rela

Ia tukar dengan apa 

Demi seorang yang disebutnya buah hati

Belahan jiwa


Kalau bukan Lillah, apa yang ia harap?

Kalau bukan Lillah berapa upah ia dapat

Kalau bukan Lillah balas jasa  apa yang pantas dibuat?

Kalau bukan Lillah, sumpahnya tak jadi keramat!


Mengapa masih ada.

Sebutan anak durhaka?

Apakah neraka lebih indah tempatnya?

Sang Peri yang Mencari

 Sang Peri yang Mencari

Juharoh Juha 

**************


Ketika sembunyi tak lagi sunyi. Keluarlah  dari persembunyian. Agar kesunyian tak melambangkan kehilangan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Suatu malam,  dipenghujung ramadhan. Ada peri cantik. Yang sedang beri'tikaf di cangkangnya yang unik.Didalam  cangkang  ajaib itu ia merasa terusik. Ia mendengar suara bisik - bisik yang berisik.  

Kata mereka, ternyata di negeri entah berantah ada sebuah kisah. Tentang kehilangan jamaah  kekasih Allah.


Tiba - tiba timbul jiwa jurnalistiknya. Ingin mencari informasi tentang fenomena dipenghujung ramadhan ini.

Otaknya menelisik tanya. Apa penyebabnya. Kemana hilangnya para kekasih Allah ? Semoga mereka baik - baik saja. Doanya dalam hati.


Sang peri cantikpun menyesal, kenapa ia tak keluar sedari kemarin. Padahal kabar tentang fenomena yang terjadi di desa Rempug Rukun sudah sangat santer terdengar .


Diam - diam ia keluar dari persembunyiannya. Mulanya ia bersembunyi agar mencari tempat sunyi. Untuk lebih mendekatkan kepada sang pencipta alam raya ini. Namun ia merasa terganggu dengan kabar berita. Tentang jamaah yang hilang lagi. 


Ia keluar dari tempatnya bersembunyi. 

Yaitu cangkang ajaib.

Diam - diam ia berjalan ke arah masjid. Dilihatnya sekeliling ruang masjid. 

"Hmmm...."ia bergumam.

"Sepertinya  memang masjid tampak bertambah luas. Sehingga banyak ruang kosong tersisa.  Ataukah memang benar kabar yang tersiar. Tentang jamaah yang hilang." Pikirnya.


Sambil berfikir keras iapun berniat kembali untuk menyendiri lagi. Di perjalanan pulang ia melewati sebuah tempat. Dimana banyak orang berbondong - bondong  menjual dan membeli barang. Ada baju, celana, kue dan juga barang lainnya. Oh ..ternyata mereka disini. Pantas saja, dimasjid sepi.

Gumam sang peri.


Setelah pencatian informasi dirasa cukup. Ia ingin segera pulang.

Namun ditengah perjalanan, hidung peri yang mungil dan minimalis mencium aroma wangi. 

"Hmmmmm....lezatnya. Aroma apa ini?"

 Lewat dua mata sipitnya iapun mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.


 Ternyata ada beberapa ibu - ibu Sholehah yang sedang lembur didapur. Mempersiapkan jamuan kue untuk para tamu dihari raya.

Ada bermacam kue yang cantik rupa dan bentuknya.Dan insya Allah pasti lezat rasanya. 


Karena rasa penasaran yang  begitu kuat, iapun masuk ke rumah para penduduk. Dari hasil  investigasinya ia menjumpai berbagai alasan. Mengapa ruang masjid tampak lebih luas dibanding minggu pertama awal Ramadhan.


Dilihatnya ada beberapa ibu yang mempunyai anak kecil. Para ibu itu sholat tarawih di rumah sambil mengasuh si buah hati.

Sementara sang bapak bergantian mengasuhnya.

Ada pula diantara mereka yang sedang sakit. Dan beberapa ibu yang sedang haid.


Sang peri cantik masih penasaran, kemana lagi,  menghilangnya para jamaah kekasih Allah.


Sang peri melihat segerombolan anak muda, naik motor kebut kebutan. Hingga sang peri sangat kaget dibuatnya 

Nggeeeng ..ngennggg....

Bremm bremmmm...breenm.

Sang peri cantik  mengikuti mereka dari belakang. Sambil naik di cangkang ajaibnya. 


Ternyata anak muda tersebut singgah disebuah cafe. Dan sekedar numpang wifian untuk bermain game sambil menyeruput  copi capucino yang nikmat.


Sang peripun bergegas pulang. Dan rasa penasarannya sudah hilang. 

Ia hanya berdoa, semoga para manusia yang dilihatnya. Apapun yang mereka lakukan mendapat keberkahan dibulan ramadhan. 


Sang peri kembali masuk dalam cangkang ajaib. Ia menyendiri dan menyepi lagi.  

Sendiri bukan berarti berteman sepi.

Zikir dan doa yang meramaikan hati.

Rabu, 27 April 2022

Tepian Sepi Marni


By Juha Mutiara


Seandainya dapat kulihat wajahmu. 

Pada pelangi di bawah bayangan mentari.

Atau pada gemintang di malam hari.

Tak mungkin ku relakan hatiku. 

Berlabuh pada sajak yang sepi.


Sajak indah,  yang pantas untuk melukiskan suasana hati Marni. 

Yang sepi.

sejak ditinggal suaminya pergi. 

Saat itu. ..

Saat hati marni belum tersentuh rasa sakit. Saat   jiwanya belum sekarat karena   hianat.


Tiga purnama telah berlalu. Marni tak mendengar kabar apapun dari Parno suaminya. Pamitnya pergi mencari peruntungan di negeri seberang. Kalimantan, pulau borneo.


"Dek, mas mau merantau ke kalimantan. Kata kang Gento,Disana banyak proyek bangunan gede. Dari pada jadi buruh tani di sini. Ndak cukup untuk makan sehari hari."


"Lha, memang ada uang buat sangu?"Marni menjawab setengah ragu.


"Aku numpang  kapal dagang, karo kang Gento." 


Marni tak menyahut. Ia asyik melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.

Masih panas. 

Sepanas aroma nafas marni yang memburu dalam ragu.

Tercium aroma matahari di baju yang dilipatnya. 

Ia menarik nafasnya, berat.


"Lha, terus aku nggak ditinggali duit?"

"Ngono maksudmu, mas?"

Nada bicara marni sedikit meninggi. Entah apa yang barusan hinggap difikirannya.


Parno menggeleng. Kemudian tersenyum. 

Kecut.

"Nanti aku kirimi."

Sahut parno kemudian.


Sampai keesokan harinya Parno pun pergi. Dan membiarkan Marni mencari jalan hidupnya sendiri. Menafkahi  anak semata wayangnya. Asti, tak lagi minta jajan. Boro boro minum susu. Makan dengan nasi lauk garam saja sudah alhamdulillah.


Marni kemudian jadi buruh cuci di rumah bu lurah. Lumayan buat beli beras dan lauk sehari hari. Sambil menunggu kiriman dari suaminya. Tapi, boro-boro kiriman uang. Kirim kabarpun, tak pernah. Padahal waktu itu Marni sudah memberi nomer telepon mang Apin. Tetangga depan rumah. 


"Asti ingin beli sepatu baru mak. Jari kaki  asti sudah pada ngintip semua . Alias bolong."

Pinta asti suatu hari.


"Iya...tunggu kiriman dari bapakmu."

Begitu jawaban Marni setiap saat asti meminta sesuatu.


Tapi sekarang tidak lagi. Sejak mendapat kabar yang dinanti.

Ia juga tak lagi berteman sepi. 

Sejak ia tahu, bahwa Parno tak mungkin kembali.

Sejak...

Sejak...

Ahh..Marni tak sanggup meneruskan kata katanya lagi.


Air mata yang hangat meleleh dari sudut matanya. Menjawab kalimat yang tak sanggup diselesaikan lewat bibirnya.


"Kenapa nangis, mak? Uang kiriman bapak kurang?"

Tanya Asti tanpa basa basi.


"Ah, nnggak. Ngapain mikirin uang. Orang mata emak kelilipan.. "Jawab marni sambil menyeka air matanya.


Asti tak hirau lagi dengan jawaban ibunya. Jawaban yang ia tahu tentang kebenarannya. Lebih baik ia  asyik memandangi sepatu barunya.


Sepatu yang ia tak tau dari mana emaknya mendapatkan uang. Yang Asti tahu, bapaknya sudah kirim uang. Dan ia merasa sudah sangat senang.


Tiga hari  yang  lalu terdengar kabar, kalau kang Gento pulang. Dan malam tadi ia datang bertandang. Marni sangat senang. Siapa tahu suaminya ada mengirim uang. Setidaknya ia dengar kabar  tentang suaminya. 


"Maaf jeng Marni. Parno disana sudah menikah lagi. Dengan janda anak tiga."


Bumi tempat Marni berpijak seakan runtuh. Langit tempatnya bernaung seakan bergemuruh. Menghujami  jutaan meteor panas. Menembus jantung dan meluluhlantakkan sendi sendinya. Ia bagai  daging tak bertulang.


Kang  Gento mengulurkan sejumlah uang. 

"Ini, untuk jajan anakmu." 

Diletakkannya uang itu  di tangan Marni yang tergolek lemas.


Marni  tak tau lagi harus berkata apa. Ucapan terima kasih rasanya tak rela ia ucapkan.  Untuk sebuah belas kasihan. Apalagi untuk kabar yang baru ia dengar. Dari seorang   yang membujuk suaminya pergi merantau. Hingga suaminya menghancurkan biduk rumah tangganya.


Sejak itu, Marni tak mau lagi berteman sepi dan menanti. Meski bayang Parno selalu hadir dalam mimpi. 


Biarlah sendiri, asal ia tak lagi menanti.

Dalam  sepi yang tak bertepi. 


#jeniuswriting

#menulisuntuksedekah

#virusbahagia

Mulut Harimau



Juharoh Juha 


***************

Ketika mulutmu  adalah harimaumu.

Maka senjatamu akan membunuhmu.

Masihkah kau meragu?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Pernahkah mendengar peribahasa yang sepadan artinya dengan opening di atas?

Pastinya dong.

Pasti tahu artinya kan?

Tentu.

Intinya jaga mulut.

Jaga ucapan.

Jangan sampai salah sebut.

Nanti kau termakan oleh kata kata yang terlanjur kau ucapkan.


Kalau sudah ludah kau buang, mana mungkin kau jilat kembali, kan?

Jangan alasan lidah tak bertulang. Maka boleh ngomong sembarang.


Atau pakai dalil manusia tempat salah dan lupa. Lalu boleh berkata apa saja. Lalu minta maaf seenaknya.Tanpa memikirkan orang yang sudah jadi korban ketajaman alias keganasan ucapannya.


Daripada harus menjilat ludah yang sudah dibuang.

Mending jangan sembarangan meludah.

Hati hati sist and bro...

Mendingan jilat Oreo...


~~~~~~~~~~~~~

Mulutmu harimaumu.

Ucapanmu akan mencelakai dirimu.

Mau???

  Menjaga Tri TA Juharoh Juha *************** Menjaga sesuatu  lebih susah dari pada mendapatkanya. Benarkah? Pertanyaan diatas tidak ...